Seni, yang kata
orang banyak identik dengan nyentrik dan aneh, atau juga indah bagi sebagian
orang meskipun belum tertemukan dimanakah letak indah, nyentrik ataupun
anehnya. Berbagai tafsir tentang seni itu tentu sah-sah saja, namun yang pasti
bagi para penghuninya, seni merupakan sebuah tempat tinggal yang nyaman. Tentu
juga dengan berbagai alasan dan sebab tersendiri.
Kata Pak Tardi
(Fajar Sutardi, teman saya dari komunitas Perupa Pintu Mati Solo), seni
tak jauh beda dengan ‘bertani’ dan juga ‘berdakwah’ yang memang selama ini
dilakoninya. (Maaf Pak, saya tulis tanpa ijin, hehehe….). Saya sependapat
dengan itu karena memang seni dan bertani (atau mungkin juga aktifitas lainnya)
hampir sama, sama-sama mengolah sesuatu. Kalau bertani mengolah tanah, seni mengolah
pikiran. Lebih lanjut Pak Tardi bilang bahwa alam selalu memberi dan tak pernah
meminta, senada dengan yang diungkapkan seorang Kahlil Gibran, bahwa ‘ semaikan
benih dan bumi akan memberi kamu bunga’. Sedangkan berdakwah ‘menyampaikan
seruan kepada orang lain’ maka seni juga tak jauh beda, menyampaikan isi
pikiran yang sudah menggumpal dan tervisualisasikan lewat karya kemudian disampaikan
kepada khalayak umum.
Tiap kepala
mempunyai isi pikiran masing-masing, ada juga teman saya yang berpendapat bahwa
seni berawal dari sampah dan akhirnya menuju tempat sampah. Ini muncul karena
kekesalan dia (atau juga ‘keheranan’) melihat para seniman terutama anak-anak
kampus yang mengusung sesuatu yang menurut dia kotor dan layaknya sampah
kemudian diangkat ke ruang pameran untuk diklaim sebagai karya seni, dan
akhirnya karya itupun kembali ke asalnya yaitu tong sampah, karena tidak laku
untuk dijual. (Saya tersenyum juga mendengar ini, hehehe…).
Kalau menurut
pembaca bagaimana…?
Arus informasi
dan teknologi sedemikian cepat, seperti kedipan mata. Kalau dulu untuk tahu apa
yang terjadi di belahan bumi lain kita menunggu sehari atau minimal berjam-jam,
kini dalam detik itu juga kita tahu dengan bantuan media. Demikian sehingga
seni juga masuk dalam arus yang tak terelakkan tersebut. Perubahannya juga
sebegitu cepat, apa yang dianggap baru hari kemarin, hari ini menjadi sesuatu
yang basi. Demikian juga besok sudah muncul sesuatu yang baru dan menutup
anggapan-anggapan baru tentang hari ini. Dalam hal karya seni, bermacam aliran
muncul dan dengan mudah pula tertimpa yang lainnya sehingga tumpang tindih tak
karuan banyaknya.
Bermacam
komunitas seni yang lahir dan bermunculan, namun tak sedikit pula yang mati dan
bertumbangan. Dihempaskan oleh derasnya arus global, atau jua disebabkan oleh
sesuatu hal. Tak sedikit pula yang anggotanya berguguran satu persatu, tak
terkecuali komunitas yang besar ataupun yang kecil. Saya yang secara geografis
jauh dari tempat lahir dan mangkalnya ‘anak-anak Pintu Mati’, merasa betul
betapa sebuah komunitas sangat berperan dalam atmosfir hari-hari. Kehadiran
komunitas sangat memberi andil dalam perkembangan atau gerak keseharian kita.
Warna hidup kita begitu terasa karena adanya komunitas. Hal itu berlaku dalam
komunitas apapun, karena komunitas itulah yang membentuk dan membakar diri kita
untuk ‘ada atau hilang’. ( Mungkin pendapat ini begitu subyektif, namun mudah-mudahan
kesubyektifan itu tidak menghalangi untuk membuka pikiran kita masing-masing).
Masalah ‘ada atau tidak’ tentu tidak hanya ditentukan semata-mata oleh sebuah
komunitas namun komunitas tidak bisa kita kesampingkan keberadaannya.
Ah, kenapa jadi
serius amat…? Si Amat aja nggak serius…hehehe.
Kembali tentang
pendapat orang, seni ada yang menurut sebagian malah bikin pusing. Bagaimana
tidak pusing, lukisan yang bentuknya tak karuan dipajang di ruang pamer
kemudian orang lain disuruh melihatnya, bukankah ini bikin pusing namanya.
Sebagian juga melihatnya dengan menggerutu. “Iki lukisan opo maneh…?!”
Celetuknya saya dengar ketika seseorang melihat lukisan didinding pameran.
Mungkin Anda juga pernah melihat kejadian seperti ini, atau malah orang
tersebut adalah pembaca? Hehehe…
Lukisan kadang
misterius, semisterius pelukisnya. Karena faktor misterius itulah yang semakin
membuat penasaran bagi sebagian pemerhati, penikmat seni, kolektor ataupun kolekdol
seni. Istilah kolekdol ini muncul karena seseorang membeli lukisan bukan
untuk koleksi tetapi untuk dijual lagi. Sebuah istilah dari penggabungan kata koleksi
dan adol (bahasa Jawa yang berarti menjual). Beberapa waktu yang lalu,
para kolekdol ini dijauhi oleh mereka yang dengan kukuh menggenggam erat nama
‘seni’ didadanya. Namun lagi-lagi karena faktor waktu yang menggeser semuanya.
Kini mereka itu tak segan lagi untuk ikut nimbrung di lingkaran pasar.
Sebelumnya mereka alergi atau malu ketika mendengar nama ‘pasar’. Para kaum
idealis mulai melirik pasar dan bahkan berlomba untuk sedekat mungkin
bersentuhan dengannya. Pasar ramai oleh lukisan yang sangat beragam aliran,
dari klasik sampai kontemporer.
Efek pasar seni
sangat beragam, diantaranya membuat perubahan pada pelaku-pelaku seni. Yang
dulu puas dengan idealisme dan konsep. Maka kini semakin melebar dengan sedikit
keluar dari idealismenya. Atau juga sebagian mengklaim masih idealis dengan
konsepnya. Tetapi yang pasti perubahan itu sangat kentara pada sikap
keterbukaan mereka. Sebagai contoh yang saya lihat sendiri, lukisan-lukisan pak
Bonyong (Bonyong Munny Ardie) yang dulu kata pak Beng (sesama pelukis, teman
pak Bonyong dari Surabaya) lukisan-lukisan Bonyong ‘belum jadi’. Kata ini
terlontar karena melihat lukisan-lukisan Bonyong ada yang disisakan satu figur
yang sengaja ‘tidak diselesaikan’. Tetapi terlihat kini lukisan Bonyong secara
visual sangat halus bila dibandingkan dengan yang dulu. Tentunya juga dengan
idealisme yang sangat subyektif. Dengan kata lain, idealisme dengan bungkus
yang baru. (Maaf lho pak Bonyong kalo pendapat saya ini keliru, hehehe…). “Méntému…!!!”
kata pak Bonyong setiap kali diejek oleh seseorang.
Lain lagi dengan
para pelaku seni yang dari awal sudah akrab dengan kolekdol, mereka terkadang
sinis ketika mendengar kata idealisme, karena menurut sebagian mereka idealisme
tidak bisa menghasilkan uang, padahal dapur harus tetap mengepul. (Ah, setiap
orang boleh berpendapat koq. Pendapatnya juga benar dalam ruang lingkupnya
masing-masing).
Mungkin tulisan
ini hanyalah uneg-uneg penulisnya yang kini jauh dari komunitas, atau
setidaknya curhat kepada angin, atau juga ibarat meludah ke langit yang
kemudian akhirnya mengenai wajahnya sendiri. Terserah apa saja, yang penting
semoga angin punya telinga atau langit punya gravitasi sehingga ludahnya tidak mbalik
ke wajah lagi. Yang pasti, kini yang jauh itu mencoba untuk mengejar meskipun
mungkin nanti terjadi overlap.
Salam budaya…!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar